Apa Kabar?

Agustus 21, 2007 oleh hasbi

Apa kabar?

Sepertinya sedang terjadi sesuatu dalam hidupmu? Betulkah?

Bahagiakah kamu? Ada kekhawatiran terlintas

Semoga, baik-baik saja

Sebuah Mimpi Yang Menyentuh

Agustus 20, 2007 oleh hasbi

Semalam bermimpi orang membaca Al Quran dan orang-orang yang bersujud di masjid. Terimakasih, Hai Maha Pendamai, aku tenang setelah membaca Hud ayat 6

17 Agustus 2007

Agustus 16, 2007 oleh hasbi

Besok, adalah hari spesial. Mamaku tercinta, adikku Agis, dan Indonesiaku ulang tahun. Sayang, yang kuingat hanya usia Indonesiaku. Menyesal, jarang banget pulang.

Sayang, Kemarau Telah Datang

Juli 9, 2007 oleh hasbi

Sayang, juni setengahnya telah berjalan
Kamu tahu, seiring Juni, kemarau juga datang
Kamu pasti kepanasan tadi siang
Matahari menerpa garang menghitamkan kulitmu
Angin kemarau mengeringkan kulitmu
Seperti ular
Dia akan mendapatkan kulit barunya
Jadi tak usah khawatir

Dan malam ini kau pasti kedinginan
Kemarau memang seperti itu bukan?
Siang terasa sangat panas dan malam sangat dingin

Tidurlah
Rasakan hangat dalam selimutku
Istirahatlah
Aku kan terjaga menjagamu
Kemarau kan membawa nyamuk mengganggu tidurmu
Aku ingin kau damai
Dalam lelapmu
Aku ingin melihat wajah tak berdosa
Saat terlelap aku pasti melihat kecantikanmu tanpa polesan
Setelah banyak kita ceritakan tentang siang tadi
Yang akan berlanjut esok hari

Dan kemarau akan terasa semakin panas saat siang semakin dingin saat malam
Aku akan tetap bersamamu

The Soundtrack

Juli 9, 2007 oleh hasbi

Dalam hidup
Selalu saja ada peristiwa-peristiwa tak terlupakan
Satu dua buah lagu mengikatnya
Mengiringi keabadian perubahan

Setiap membuka halaman hari
Ada lagu-lagu yang mengikat nuansa
Nuansa yang hanya kita tahu apa rasanya
Ada nada-nada yang merasuk dalam alam bawah sadar
Alam yang hanya kita tahu apa maknanya
Ada lirik-lirik yang mewakili isi hati
Melengkapi semilir angin yang berbisik di sudut hati
tentang kesedihan
Mewarnai biru langit
tentang harunya perasaan
Menyertai tatapan mata
pada setiap langkah perjalanan

Dua bulan, dua tahun, dan dua puluh tahun mendatang
Nuansa itu tak sengaja kembali terasa
Menggugah perasaan dalam alam bawah sadar
Ketika lagu-lagu itu kembali terdengar

Kiko Loureiro, No Gravity
Pernah mengiringi saat hati mengambang penuh kedukaan
Melalui ratusan hari kemarin
Hari-hari dimana huruf-huruf merangkai cerita
Hari-hari dimana putaran-putaran roll menyingkap rahasia
Pada hati seorang perempuan, lautan sejuta rahasia

Kiko Loureiro, Feliz Desilusao
Sampai hari ini tak tahu apa artinya
Meninggalkan puluhan pertanyaan

Pada akhirnya
Hanya ada satu orang untuk satu orang
Dialah belahan jiwa
Apa yang terjadi ketika kita hidup bukan bersama belahan jiwa
Dan kita tak tahu
Apakah yang tersenyum di sisi kita adalah belajan jiwa
Walau pun sering di hati menebak dan mengharap

Layang – Layang Impian

Juli 9, 2007 oleh hasbi

Laki-laki kecil berdiri di tengah lapangan di bawah naungan matahari
Menatap puluhan layang-layang terbang tinggi menembus cakrawala
Disertai gelak tawa tangan-tangan berhasrat
Mengadu keberanian dalam aturan permainan
Ya, pasti selalu ada kecurangan
Mata laki-laki kecil terbang tinggi meski dia tak punya layang-layang

Aku harus punya layang-layang
Aku ingin terbang
Tak setinggi mereka tak apa
Aku punya impian untuk terbang

Aku harus punya layang-layang
Biarpun di tangan uang tak ada
Aku tetap harus punya layang-layang
Tanganku yang akan merajutnya

Tak jera, seperti kemarin
Kaki-kaki laki-laki kecil berlari
Matanya terus menatap layang-layang impian yang terbang lunglai
Tak peduli apa yang dilalui
Menembus semak dan selokan
Terjatuh
Menerabas badan-badan penuh hasrat
Tersingkir
Menginjak kerikil
Tersandung
Menginjak duri
Tertusuk
Dia tetap berlari dengan mata tetap menatap lekat
Kemana pun layang-layang impiannya terbang lunglai
Dia ingin menyelamatkan layang-layang agar tetap terbang
Ketika laki-laki kecil gagal mendapatkannya
Ia akan berkata, esok akan ku kejar layang-layangku yang lain lagi

Di dadanya ada hasrat
Mengejar impian tentang layang-layang dan kepuasan menembus batas awan
Katanya, kenapa lebih penting dari pada bagaimana cara menggapainya
Katanya, impian lebih penting dari pada bagaimana cara memilikinya
Sebab Tuhan akan tetap memberi jalan di setiap pertemuan antara kesulitan dan impian
Sebab Tuhan akan tetap memberi hiburan di setiap pertemuan antara kesedihan dan keindahan

Hari ini di tangannya
Terhempas satu layang-layang koyak
Telah diinjak dan dinistakan
Laki-laki kecil tak kecewa
Layang-layang, kau begitu berharga
Di tanganku, kau akan terbang menembus batas cakrawala
Percayalah
Karena kau sangat berharga

Di sudut ruang di bawah meja makan
Kertas, lem, bambu, benang penuh sambungan, dan kasih sayang
Tangan-tangan mungil merajut layang-layang impian
Segurat senyum menghias penuh kebanggaan

Hari ini
Layang-layang gagal mengangkasa
Laki-laki kecil tak tahu mengapa
Tapi dia tetap berkata, esok kan kucoba

Hari ini
Layang-layangnya terbang
Di masa kecilnya
Itulah satu-satunya layang-layang yang berhasil dia terbangkan
Menembus cakrawala impian

Bagian kecil mozaik film Layang-Layang Impian
Sebuah film yang semoga saja berhasil dinikmati suatu hari
12 Juni 2007

Di Atas Sajadah

Juli 9, 2007 oleh hasbi

Saat berdiri menghadapMu
Dan tangan terangkat takbiratul ihram
“Wahai Penguasa Alam Raya, kuatkan tangan lemahku memegang erat tanganMu.”
Terimakasih, aku masih dapat mendengar Adzan
Yang terkadang tak kudengarkan
Di bawah selimut kemalasan

Ketika bibir mengucap takbir
Mata nanar menatap satu titik
Dimana wajah kan mencium sajadah
“Ya Allah yang Maha Besar, aku memang tak pantas.
Tapi, izinkan aku berdiri menghadapMu dengan segala rasa bersalah.”
Terimakasih, masih ada getar di kalbu ketika namaMu mengalir di bibir

Hai Sang Hakim Hari Pengadilan
Saat kuucap, “Hanya padaMu kami menyembah dan hanya padaMu kami memohon pertolongan.”
Terimakasih, masih tetap ada bening-bening terjatuh membasahi sajadah
Jalanku selalu berkelok
Langkahku sering berselingkuh
Tapi aku yang sering melupakanMu tetap akan merayu
“Tunjukkanlah aku jalan yang lurus.”
Saat pengadilan nanti
Berikan kemurahan amnesti
Padaku yang tak tahu diri
Padaku yang sering menyalahkan dan mempertanyakan, dimana keadilanMu?

Hai Tuhanku Pemilik Berjuta Kasih
Mudahkan pemberian maaf di hati manusia-manusia yang pernah dan akan kutemui
Pada mereka pasti kupernah dan akan menyakiti serta mendhalimi hak-haknya
Terkadang aku tak mampu
Mengucap bahasa permaafan
Terkadang aku sulit menemukan
Kesempatan pengampuan
Tanpa maaf mereka, istighfarku sia-sia
Tanpa ketulusan mereka
Jalanku menuju pelukanMu terhalang
Ya Rabb, Engkau tak seperti kami manusia yang sangat sulit memaafkan
Aku tahu, hanya Engkau yang sangat mudah menghapus catatan nodaku sekotor apapun
Jadi aku tetap meminta padaMu
Kekuatan dan kemampuan berbuat baik kepada sesama insan
Kemudahan menutup lubang-lubang
Kemurahan memaafkan

Saat badan dan jiwa merendah
Ruku’ku sampai hari ini belumlah penuh sempurna
Masih ada sebongkah kesombongan
Terimakasih, masih tetap ada kerinduan berucap
“Maha Suci Engkau ya Rabb yang Maha Agung dengan segala kelebihanMu.”
Dan, betapa kecilnya aku.

Saat wajah mencium sajadah
Sujudku sampai hari ini belum penuh thuma’ninah
Anggota badan sujudku, kening, hidung, tangan, lutut, dan kaki masih terus berlaku salah
Terimakasih, masih tetap ada kerinduan berkata,
“Maha Suci Engkau ya Rabb, yang Maha Tinggi dengan segala keluhuranMu.”
Aku, seonggok daging penuh kotoran
Bersimpuh menangis di atas sajadah
Betapa hinanya aku

Saat jasad terduduk antara sujud-sujud
Aku yang tak tahu diri ini meratap
“Ya Rabb, ampuni aku, sayangi aku, cintai aku, berikan aku keluasan rizki, berikan aku petunjuk, berikan aku maafMu, maafkan aku.”

Saat wajah menoleh
Guratkan di wajahku garis-garis senyuman ketulusan
Pancarkan di mataku sinar kasih sayang
Hiasi bibirku kerendahan hati yang menyejukkan
Dari hati yang selalu kumohon Kau bersihkan
Basahi lidahku kejujuran, kebenaran, dan salam perdamaian
Ketika kujumpai makhluk-makhlukMu
Di kanan kiriku

Saat tangan saling bersentuhan
Anugerahi aku hasrat keikhlasan
Berbagi cinta dan kasih sayang
Untuk makhluk-makhlukMu
Di sekitarku

Saat segala doa kurintihkan
Bukalah pintu langitMu
Aku yakin Kau mendengar keluh kesah, jeritan hati, dan jutaan permohonan
Sirnakan kabut-kabut dosa yang menghalangi
Agar kasihMu sampai padaku
Sehingga aku yang lemah
Tetap tegar menghadapi ujian dan hukuman kehidupan
Tetap sabar mengumpulkan nilai-nilai pembelajaran hakikat kehidupan

Saat setelah kulipat kain sajadah tipis lusuhku
Temani perjuanganku
Membahagiakan orang-orang tersayang
Menjadi kebanggaan ibu bapak
Menjadi suami terbaik isteri tercinta, perempuan mutiara cinta
Menjadi ayah teladan bintang-bintang cakrawala
Menjadi makhlukMu yang selalu lebih baik
Menjadi mutiara dunia

Sertai setiap langkah
Ketika hamba bermu’amalah
Mudahkan dan mampukan hamba
Mengais derasnya hujan rizki nafkah berkah tak ternoda
Untuk keluarga hamba yang kuminta Kau jadikan sakinah mawaddah
Jika ada noda
Mampukan hamba menyucikannya
Jadikan hamba menjadi tamuMu
Yang layak berkunjung di miniatur Makhsyar
Bersama ibu bapak, perempuan mutiara cinta, dan bintang-bintang cakrawala
Mencium batu hitam
Bersujud di bawah Ka’bah
Membasahi tenggorokan dan wajah dengan jernih Zam-Zam
Menangis di Arafah mengingat pengadilan Makhsyar
Menyelami syahdu cinta asmara Adam Hawa
Merasakan pengorbanan perempuan Hazar
Merasakan ketaatan bapak tiga agama
Melempar prasasti syaitan
Bersimpuh di masjid kenabian Madinah
Bershalawat dan bertemu kekasihMu dalam peristirahatannya yang damai

Saat lima adzan memanggilku lagi
Berikan aku kesempatan untuk membentang sajadah lagi
Aku ingin bisa kembali mereguk nikmatnya kerinduan padaMu
Aku selalu rindu bisa kembali membasahi sajadah
Dengan isak lirih berbasah bening-bening kristal mata hati
Menumpahkan kemarahan, dendam, kegelisahan, kegetiran, kesedihan, pengakuan, penyesalan, kebingungan, permintaan, pertanyaan, kebahagiaan, kekagumanku padaMu, rasa syukur, dan semuanya. Sepuasku

Ya Rabb Pemilik Kehidupan
Saat jasadku terbaring lemah
Sebelum kaku
Aku sangat memohon, sangat memohon
Mudahkan bibir, hati dan semua organ tubuhku
Mengucap asmaMu dan Muhammad kekasihMu
Ku sambut Izrail dengan senyuman
Bukan getar ketakutan
Ringankan regang kesakitan saat nyawaku lepas dari sarangnya
Lapangkan tanah tempat kembaliku
Tanah yang sudi menerima jasadku
Tanah yang melindungiku dari siksaan
Mudahkan hingga kubisa menjawab pertanyaan dua orang tamu
Dan ku kan tenang menanti pengadilanMu
Dalam tanah ruang tunggu

Saat aku pulang menemuiMu
Tetapkan Islam dan iman yang menggelora dan merasuk dalam genggaman jiwa
Sambutlah dengan senyum dan peluk kasih sayangMu
Jangan lupakan aku yang pernah melupakan
Jangan buang aku yang pernah mencampakkan
Dan bisikkanlah padaku,
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah padaKu yang meridhai dengan segala keridhaan. Bergabunglah bersama hamba-hambaKu dan masuklah dalam istanaKu.”

Terimakasih
Aku makhlukMu yang sempurna
Dimana kelebihan dan kekurangan menyatu
Kelebihan, yang aku ingin termanfaatkan
Kekurangan, yang aku ingin termaafkan

Yogyakarta, sisi selatan sebuah Masjid, 8 Juni 200