PULSA HP SEBAGAI ALAT TRANSAKSI

Pagi ini saya sudah bersiap-siap berangkat ke rumah mantan pacar di Cirebon. Tentu atas restu isteri saya. Sudah 3 tahun saya tidak bertemu dengan orang yang pernah mendapatkan tempat istimewa di hati saya.
Pertemuan terakhir di akhir Januari 2008 lalu. Selama tiga tahun itu kami tidak pernah berkomunikasi. Bukan berarti komunikasi sekarang sulit. Toh, dengan adanya handphone semua jadi mudah. Bisa berkomunikasi kapan saja dan dimana saja. Tidak perlu menunggu berhari-hari seperti dulu saat tukang pos dirindukan banyak orang. Yang membuat kita sulit membuka komunikasi kembali adalah perasaan tertentu yang mengganjal di hati. Bisa benci, dendam, ragu, dsb. Lagi pula saya sudah punya orang yang paling saya cintai, isteri saya. Jadi untuk apa sering-sering berkomunikasi dengan masa lalu.
Saya ingin mengunjunginya untuk keperluan bisnis. Saya membayangkan tiga tahun pasti ada perubahan di dirinya. Mungkin dia sudah menikah. Mungkin juga dia sudah hamil tua. Hihi. Pasti lucu melihatnya. Saya paling suka membayangkan dan melihat seorang teman perempuan saat sedang hamil. Kecantikan perempuan yang sedang hamil memancar begitu alami.
Saya keluar rumah. Saya hanya membawa dompet dan tas. Di dompet itu tidak ada uang. Hanya berisi KTP dan surat-surat penting. KTP di tahun 2011 ini masih berbentuk kertas tebal berefek glossy. Heran, kok masih berbentuk konvensional? Belum berbentuk digital dengan chip pintar. Meminjam istilah gaul di tahun 2007, “hari gini masih tradisional!” Ah, pemerintah Indonesia masih saja kurang tanggap dengan teknologi.
Tidak lupa saya membawa HP. HP di tahun 2011 sekarang ini, sudah berfungsi sebagai dompet digital juga. Tidak seperti di tahun 2008. Sampai tahun itu, HP cuma berfungsi sebagai alat komunikasi.
Saya sudah menaiki Si Black, Toyota terbaru. Memencet tombol ‘yes’ di handphone, Si Black langsung menyala. Sesaat kemudian Si Black sudah meluncur di jalan dengan kecepatan sedang.
Hanya berselang lima menit, Si Black mampir ke SPBU Biodiesel. Saya tak perlu keluar dari mobil. Dari belakang kemudi, saya menuliskan beberapa kode di HP. Saya mengirimkan pulsa ke nomor pembayaran SPBU itu. Handphone saya menerima pesan bahwa transaksi sudah diterima. Lalu saya memencet tombol pengisian bahan bakar di dashboard Si Black. Si Black membuka sendiri pintu tabung pengisian bahan bakar secara otomatis. Sebuah lengan robot bergerak dari badan mesin pengisian bahan bakar. Ujung lengan robotik itu masuk ke dalam lubang pengisian bahan bakar. Setelah menunggu beberapa saat proses pengisian pun selesai.
Saya kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum keluar dari Yogya, saya sempatkan menelpon ke kantor dengan HP saya. Saya ingin melakukan koordinasi dan beberapa perintah kepada salah satu karyawan andalan saya.
Dari sekian banyak bisnis yang digeluti, kantor ini adalah salah satu bisnis saya. Bergerak di bidang distribusi kebutuhan sehari-hari. Berbentuk supermarket yang sudah berbasis internet. Tidak ada ruang display. Semua produk sudah saya pajang di website. Kantor hanya berfungsi sebagai pengendali dan gudang. Konsumen saya berbelanja melalui website itu. Mereka membayar dengan pulsa HP sebanyak harga barang. Setelah mereka mentransfer pulsa HP, barang langsung dikirimkan ke tujuan.
Pelanggan saya sebagian besar penduduk Yogya yang super sibuk. Mereka sudah memiliki rumah yang terintegrasi dengan peralatan digital. Setiap rumah sudah memiliki control panel super canggih. Control panel ini mengendalikan semua bagian-bagian rumah. Termasuk dalam hal manajemen dapur. Ketika kulkas kosong, kulkas secara otomatis memberi tahu ke HP pemilik rumah melalui control panel. Si pemilik rumah langsung berkunjung ke website supermarket saya. Klik ini itu dan memasukkan daftar belanjaan ke keranjang virtual. Setelah mereka menstransfer sejumlah pulsa, pesanan langsung diantarkan ke tujuan.
“Tolong tranfer pulsa ke saya. Dua puluh juta saja,” kata saya. Karyawan saya mengiyakan. Sesi pengarahan pagi ini selesai. Tidak sampai satu menit, HP saya berdering. Menyanyikan potongan lagu Forever Love – Gary Barlow. Salah satu lagu favorit saya sewaktu masih muda.
Angka nominal Rp 20 juta tertera di layar HP. Itu tandanya uang Rp 20 juta sudah masuk ke HP saya. Uang di tahun ini sudah mulai berbentuk digital. Dan HP saya adalah dompet digitalnya.
Tak terasa saya sudah memasuki Magelang. Saya mampir dulu ke sebuah pusat kerajinan patung. Di tempat ini semua produk kerajinan terbuat dari tunggul pohon. Sebagian besar di ambil dari lereng gunung Merapi. Di tangan para ahlinya, disulap menjadi berbagai bentuk patung yang unik.
Saya menemui pemilik tempat itu. Sebetulnya kami terbiasa berkomunikasi membicarakan bisnis melalui jaringan internet. Tapi hari ini saya ingin menemuinya langsung. Sekedar bersilaturahmi. Di jaman sekarang, ketika semuanya sudah berbentuk digital dan berbasis internet, semua orang jadi sibuk. Silaturahmi, bertatap muka secara langsung, menjadi moment istimewa. Secara kodrat, manusia selalu membutuhkan interaksi langsung. Ada getaran emosional yang menyehatkan psikologi.
Dalam pertemuan silaturahmi ini, saya sempatkan untuk membayar uang muka pesanan saya sebesar Rp 10 juta. Tentu membayarnya dengan transfer pulsa HP. Pesanan akan dikirimkan ke konsumen saya di Uzbekistan. Seminggu lalu konsumen saya ini memesan melalui website. Website yang dibuat khusus untuk usaha ekspor saya.
Sebetulnya transaksi tadi bisa dibayarkan melalui transfer antar bank. Tapi saya ingin membayarnya dengan pulsa HP di depannya langsung. Pertemuan langsung itulah yang mahal bagi kami yang sama-sama sibuk. Kami bisa bertatap mata, merasakan sentuhan saat berjabat tangan, dan mendengarkan tawa renyah dari wajah sumringah. Pertemuan yang menyentuh perasaan di saat semua sudah dimudahkan dengan internet dan HP.
Saya langsung meluncur melanjutkan perjalanan. Saya tetap menyetir dengan tenang. Menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan Magelang-Kendal. Syukurlah, hutan dan persawahan masih ada. Saya suka sekali menikmati suasana alam saat memasuki daerah Temanggung ini. Pemandangan yang tidak mungkin bisa dijumpai kalau perjalanan ditempuh dengan pesawat terbang.
Perjalanan darat sebenarnya memiliki sensasi tersendiri. Lebih mengasyikkan lagi kalau perjalanan darat dilakukan dengan menggunakan kereta api. Saya jadi ingat bulan madu saya yang sangat indah di bulan Desember 2008. Bulan madu yang lebih banyak dinikmati di dalam gerbong kereta. Saya dan isteri berkunjung ke Jepang, China, Amerika, Perancis, Jerman, dan Iran. Pemandangan alam di negara-negara itu menakjubkan. Saya menyaksikannya bersama isteri tercinta melalui jendela kereta api yang super canggih, aman dan nyaman.
Tidak seperti di Indonesia. Walaupun sudah tahun 2011, ternyata perkembangan perkereta apian di Indonesia jauh lebih buruk dibandingkan di tahun 2008. Sangat mengenaskan. Padahal alam Indonesia sangat indah. Kalau manajemen kereta api di Indonesia sudah canggih, aman, dan nyaman, saya mau melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke dengan kereta api. Tidak hanya saya. Jutaan penduduk Indonesia juga akan dengan senang hati berlibur di dalam kereta api saat liburan. Menikmati perjalanan dan alam Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang dibingkai jendela kereta api.
Tak terasa hari sudah siang. Saya mampir ke sebuah restoran di daerah Pekalongan. Menikmati hidangan khas Pantura. Setelah mentransfer pulsa HP untuk membayar santap siang, saya langsung menuju Si Black yang diparkir di halaman restoran. Seorang tukar parkir menghampiri saya. Ya, walau pun sudah tahun 2011, profesi tukang parkir masih tetap ada.
Saya menstransfer sejumlah pulsa untuk membayar parkir. Tukang parkir itu tersenyum sumringah setelah melihat angka nominal yang tertera di layar HP-nya. Dia langsung mengawal saya menyeberangi jalan. Saya pun langsung tancap gas melanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan saya saya menerima kiriman pulsa. HP saya bernyanyi. Seseorang menelpon. Ternyata dari penerbit buku. Novel saya bulan ini dicetak ulang untuk edisi yang kedua belas. Transferan pulsa tadi merupakan royalti kesekian kalinya yang dibayarkan untuk novel saya.
Beberapa jam kemudian saya sampai di Brebes. Sekarang suasana Brebes sudah berbeda jauh. Tidak seperti Brebes di tahun 2008. Yang tidak berubah juga masih ada. Salah satunya telur asin. Saya sempatkan mampir ke sebuah tempat belanja makanan khas daerah. Saya masuk ke dalamnya.
Walau pun sudah berbasis internet dan serba digital, pelayanan di sini tidak berubah. Saya masih boleh mencicipi satu sampai dua butir telur asin. Pemiliknya pun masih menyempatkan diri untuk mengajak saya berbincang-bincang saat saya memilih-milih telur asin. Dia sudah mengenal saya sebagai salah satu pelanggan setianya.
Saya membayar telur asin yang saya beli, tentu dengan mentransfer pulsa HP seharga telur asin yang saya beli. Setelah itu, saya langsung melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan saya menerima kiriman pulsa lagi. Ternyata itu adalah honor saya dari sebuah situs internet. Tulisan saya rupanya dipublish hari ini.
Sampai di Cirebon jam 3 sore. Saya sempatkan untuk mampir ke bank. Saya ingin mendapatkan uang kertas. Mantan pacar saya tinggal di daerah yang jauh dari kota. Di sana, untuk memenuhi kebutuhan tertentu, transaksi masih dilakukan secara konvensional. Memberikan uang kertas untuk mendapatkan barang dan jasa.
Saya disapa dengan ramah oleh customer service muda berwajah cantik. Beberapa orang nasabah sedang dilayani oleh CS lain. Para nasabah sibuk dengan HP di tangan masing-masing. Mereka sedang melakukan transaksi perbankan.
“Saya butuh uang cash, lima juta saja,” kata saya kepada CS di depan saya.
“Baik, pak. Silakan transfer pulsa HP Anda ke nomor kami sebanyak lima juta sepuluh ribu,” kata CS cantik itu.
Di tahun 2011 ini, pulsa HP memang bisa diuangkan kembali. Tidak hanya dilakukan langsung di bank, tapi bisa juga di ATM, dan dari siapa saja. Termasuk dari saudara dan teman. Anda tinggal menstansfer sejumlah pulsa ke teman Anda untuk mendapatkan sejumlah uang. Anda juga bisa menstransfer sejumlah pulsa dari HP untuk mendapatkan semangkuk bakso dan seporsi sate ayam madura.
Cerita di atas hanya khayalan saya belaka. Lebih tepatnya mungkin mimpi iseng yang muncul begitu saja. Mimpi yang muncul saat tidur setelah membaca sebuah artikel tentang uang digital. Uang digital bisa saja ada seiring perkembangan teknologi dan keberadaan HP yang sedemikian dekatnya dengan manusia. Tentu keberadaan uang digital ini akan membawa banyak perubahan. Perubahan sistem perbankan, ekonomi, budaya dan gaya hidup. Ini juga menuntut perubahan hukum dan perundangan untuk mengaturnya.
Ketika membeli pulsa, kita mengeluarkan sejumlah nominal uang. Mungkinkah pulsa itu kita uangkan kembali? Mungkinkah pulsa bisa menjadi alat transaksi? Bisa saja.
Sekali lagi itu cuma ‘khayalan’ saya. Bisa jadi, mungkin saja ada orang yang sudah mengkhayalkannya sebelum saya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.