KONSISTEN

By hasbi

Seorang pengemis sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Sebuah bangunan yang dia sewa bersama teman-temannya seharga Rp 150.000 per bulannya. Tidak mewah tapi juga tidak sangat sederhana untuk sebuah rumah kontrakkan. Mulutnya bergumam, “semoga hari ini aku dapat memperoleh rupiah lebih banyak lagi dari pada hari kemarin.”

Dia selalu menggumamkan kalimat itu setiap pagi sebelum berangkat ke lampu merah di sebuah jalan di Yogyakarta. Kalimat itu adalah gambaran impiannya. Setelah menggumamkan kalimat itu dia akan melangkah dengan penuh harapan.

Di sebelah selatan sebuah lampu merah di sebuah jalan di Yogyakarta. Seorang pemuda berjalan perlahan. Gitar jelek dia peluk seolah diharapkan dapat membantu pakaian lusuhnya menahan dingin pagi. Hangatnya sinar matahari seperti belum mampu mengusir dingin dari badannya yang sudah dua hari tak diguyur air. Dingin, itu alasannya untuk malas mandi. Tapi itu bukan halangan untuknya untuk menjemput impiannya di lampu merah di sebuah jalan di Yogyakarta. Meneriakkan lagu-lagu pada setiap orang yang bersembunyi di balik kaca. Mereka akan meneriakkan lirik-lirik dengan lantang. Mengalahkan deru mesin, menggedor pintu-pintu mobil. Di sanalah impian mereka akan terjulur berupa receh demi receh.

Sekitar jam setengah delapan pagi. Kendaraan-kendaraan berhenti tertahan lampu merah. Memberi kendaraan lain untuk menghabiskan durasi 60 detik lampu berwarna hijau. Semua orang berlomba untuk tidak kehilangan detik-detik lampu hijau. Semua orang yang melewatinya seolah ingin cepat-cepat sampai di sebuah tempat. Dimana mereka akan meraih impian-impian mereka dengan tidak sabar. Sama tidak sabarnya seperti orang-orang yang kini tertahan lampu merah.

Di antara mereka, pengemis dan pengamen kini sudah siap di posisinya masing-masing. Mereka akan melakukan tugas seperti biasanya. Pengemis akan menengadahkan tangannya. Memahat wajahnya agar terukir garis-garis mengundang iba. Pengamen akan terus memetik gitarnya. Mengiringi teriakan-teriakan berirama. Menggedor pintu-pintu perasaan dari semua orang yang berhenti dan melewati lampu merah. Ketika penolakan datang mereka akan pindah ke pintu berikutnya. Menggedor lagi. Melupakan penolakan yang mereka terima baru saja. Penolakan yang lebih sering datang dari pada penerimaan. Mereka percaya setelah 4 penolakan pasti ada 1 penerimaan sesudahnya. Mereka percaya setelah 9 penolakan pasti ada 1 penerimaan sesudahnya. Mereka tidak tahu dari pintu ke berapa penerimaan itu datang. Mereka tetap melakukan hal yang sama. Menyanyi dan menengadahkan tangan lagi.

Setiap detik, sejak matahari menyapa sampai matahari beranjak meninggalkan hari. Tidak ada yang lain yang bisa mereka lakukan kecuali itu. Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Mereka tidak mengenal istilah konsistensi. Sebuah kata yang tidak sadari oleh mereka telah membantu mendapatkan impian-impian mereka. Sebuah kata yang tidak disadari oleh aku bahwa itulah yang akan mengantarkan aku menggapai impian-impian aku.

Tinggalkan Balasan