Di Atas Sajadah

By hasbi

Saat berdiri menghadapMu
Dan tangan terangkat takbiratul ihram
“Wahai Penguasa Alam Raya, kuatkan tangan lemahku memegang erat tanganMu.”
Terimakasih, aku masih dapat mendengar Adzan
Yang terkadang tak kudengarkan
Di bawah selimut kemalasan

Ketika bibir mengucap takbir
Mata nanar menatap satu titik
Dimana wajah kan mencium sajadah
“Ya Allah yang Maha Besar, aku memang tak pantas.
Tapi, izinkan aku berdiri menghadapMu dengan segala rasa bersalah.”
Terimakasih, masih ada getar di kalbu ketika namaMu mengalir di bibir

Hai Sang Hakim Hari Pengadilan
Saat kuucap, “Hanya padaMu kami menyembah dan hanya padaMu kami memohon pertolongan.”
Terimakasih, masih tetap ada bening-bening terjatuh membasahi sajadah
Jalanku selalu berkelok
Langkahku sering berselingkuh
Tapi aku yang sering melupakanMu tetap akan merayu
“Tunjukkanlah aku jalan yang lurus.”
Saat pengadilan nanti
Berikan kemurahan amnesti
Padaku yang tak tahu diri
Padaku yang sering menyalahkan dan mempertanyakan, dimana keadilanMu?

Hai Tuhanku Pemilik Berjuta Kasih
Mudahkan pemberian maaf di hati manusia-manusia yang pernah dan akan kutemui
Pada mereka pasti kupernah dan akan menyakiti serta mendhalimi hak-haknya
Terkadang aku tak mampu
Mengucap bahasa permaafan
Terkadang aku sulit menemukan
Kesempatan pengampuan
Tanpa maaf mereka, istighfarku sia-sia
Tanpa ketulusan mereka
Jalanku menuju pelukanMu terhalang
Ya Rabb, Engkau tak seperti kami manusia yang sangat sulit memaafkan
Aku tahu, hanya Engkau yang sangat mudah menghapus catatan nodaku sekotor apapun
Jadi aku tetap meminta padaMu
Kekuatan dan kemampuan berbuat baik kepada sesama insan
Kemudahan menutup lubang-lubang
Kemurahan memaafkan

Saat badan dan jiwa merendah
Ruku’ku sampai hari ini belumlah penuh sempurna
Masih ada sebongkah kesombongan
Terimakasih, masih tetap ada kerinduan berucap
“Maha Suci Engkau ya Rabb yang Maha Agung dengan segala kelebihanMu.”
Dan, betapa kecilnya aku.

Saat wajah mencium sajadah
Sujudku sampai hari ini belum penuh thuma’ninah
Anggota badan sujudku, kening, hidung, tangan, lutut, dan kaki masih terus berlaku salah
Terimakasih, masih tetap ada kerinduan berkata,
“Maha Suci Engkau ya Rabb, yang Maha Tinggi dengan segala keluhuranMu.”
Aku, seonggok daging penuh kotoran
Bersimpuh menangis di atas sajadah
Betapa hinanya aku

Saat jasad terduduk antara sujud-sujud
Aku yang tak tahu diri ini meratap
“Ya Rabb, ampuni aku, sayangi aku, cintai aku, berikan aku keluasan rizki, berikan aku petunjuk, berikan aku maafMu, maafkan aku.”

Saat wajah menoleh
Guratkan di wajahku garis-garis senyuman ketulusan
Pancarkan di mataku sinar kasih sayang
Hiasi bibirku kerendahan hati yang menyejukkan
Dari hati yang selalu kumohon Kau bersihkan
Basahi lidahku kejujuran, kebenaran, dan salam perdamaian
Ketika kujumpai makhluk-makhlukMu
Di kanan kiriku

Saat tangan saling bersentuhan
Anugerahi aku hasrat keikhlasan
Berbagi cinta dan kasih sayang
Untuk makhluk-makhlukMu
Di sekitarku

Saat segala doa kurintihkan
Bukalah pintu langitMu
Aku yakin Kau mendengar keluh kesah, jeritan hati, dan jutaan permohonan
Sirnakan kabut-kabut dosa yang menghalangi
Agar kasihMu sampai padaku
Sehingga aku yang lemah
Tetap tegar menghadapi ujian dan hukuman kehidupan
Tetap sabar mengumpulkan nilai-nilai pembelajaran hakikat kehidupan

Saat setelah kulipat kain sajadah tipis lusuhku
Temani perjuanganku
Membahagiakan orang-orang tersayang
Menjadi kebanggaan ibu bapak
Menjadi suami terbaik isteri tercinta, perempuan mutiara cinta
Menjadi ayah teladan bintang-bintang cakrawala
Menjadi makhlukMu yang selalu lebih baik
Menjadi mutiara dunia

Sertai setiap langkah
Ketika hamba bermu’amalah
Mudahkan dan mampukan hamba
Mengais derasnya hujan rizki nafkah berkah tak ternoda
Untuk keluarga hamba yang kuminta Kau jadikan sakinah mawaddah
Jika ada noda
Mampukan hamba menyucikannya
Jadikan hamba menjadi tamuMu
Yang layak berkunjung di miniatur Makhsyar
Bersama ibu bapak, perempuan mutiara cinta, dan bintang-bintang cakrawala
Mencium batu hitam
Bersujud di bawah Ka’bah
Membasahi tenggorokan dan wajah dengan jernih Zam-Zam
Menangis di Arafah mengingat pengadilan Makhsyar
Menyelami syahdu cinta asmara Adam Hawa
Merasakan pengorbanan perempuan Hazar
Merasakan ketaatan bapak tiga agama
Melempar prasasti syaitan
Bersimpuh di masjid kenabian Madinah
Bershalawat dan bertemu kekasihMu dalam peristirahatannya yang damai

Saat lima adzan memanggilku lagi
Berikan aku kesempatan untuk membentang sajadah lagi
Aku ingin bisa kembali mereguk nikmatnya kerinduan padaMu
Aku selalu rindu bisa kembali membasahi sajadah
Dengan isak lirih berbasah bening-bening kristal mata hati
Menumpahkan kemarahan, dendam, kegelisahan, kegetiran, kesedihan, pengakuan, penyesalan, kebingungan, permintaan, pertanyaan, kebahagiaan, kekagumanku padaMu, rasa syukur, dan semuanya. Sepuasku

Ya Rabb Pemilik Kehidupan
Saat jasadku terbaring lemah
Sebelum kaku
Aku sangat memohon, sangat memohon
Mudahkan bibir, hati dan semua organ tubuhku
Mengucap asmaMu dan Muhammad kekasihMu
Ku sambut Izrail dengan senyuman
Bukan getar ketakutan
Ringankan regang kesakitan saat nyawaku lepas dari sarangnya
Lapangkan tanah tempat kembaliku
Tanah yang sudi menerima jasadku
Tanah yang melindungiku dari siksaan
Mudahkan hingga kubisa menjawab pertanyaan dua orang tamu
Dan ku kan tenang menanti pengadilanMu
Dalam tanah ruang tunggu

Saat aku pulang menemuiMu
Tetapkan Islam dan iman yang menggelora dan merasuk dalam genggaman jiwa
Sambutlah dengan senyum dan peluk kasih sayangMu
Jangan lupakan aku yang pernah melupakan
Jangan buang aku yang pernah mencampakkan
Dan bisikkanlah padaku,
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah padaKu yang meridhai dengan segala keridhaan. Bergabunglah bersama hamba-hambaKu dan masuklah dalam istanaKu.”

Terimakasih
Aku makhlukMu yang sempurna
Dimana kelebihan dan kekurangan menyatu
Kelebihan, yang aku ingin termanfaatkan
Kekurangan, yang aku ingin termaafkan

Yogyakarta, sisi selatan sebuah Masjid, 8 Juni 200

Tinggalkan Balasan